5575
  2017-12-30       alphakribo.blogspot.co.id

Al-Quran Merangkul Perbedaan

Islam agama damai. Sering mendengar kata itu, ya? Tentu saja kata 'damai' yang tersemat di dalamnya berasal dari akar kata salaam (yang berarti selamat/ damai). Jika nilai-nilai Islam adalah mengajarkan perdamaian; tentu kita sebagai pemeluk agama yang dibawa oleh Rasulullah ini juga mampu berdamai dengan perbedaan. Bagaiamana al-Quran menyikapi perbedaan? Mari disimak!

Ina Salma Febriany 60 views

Terlahir sempurna dari keluarga yang kaya akan budaya; adalah anugerah yang tiada tara. Sebab jelas, secara kodrati, kita tidak pernah mampu memilih untuk terlahir dari belahan bumi mana, dari rahim perempuan mana, budaya yang bagaimana bahkan untuk memilih keluarga yang seperti apa. Adalah Rasulullah Saw, panutan kita semua yang hidup dikelilingi dengan kabilah, suku yang bertingkat-tingkat dan sangat beragam. Maka tak heran ketika al-Quran turun di bumi Makkah yang sarat akan budaya; al-Quran menuntun kita agar mau menyadari bahwa di bumi ini ada sekian banyak perbedaan yang seharusnya bukan menjadi masalah atau bahkan dipermasalahkan.

Dalam surah al-Hujurat [49] ayat 13, Allah Swt mengisyaratkan bagaimana seharusnya kita menyikapi perbedaan, Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan yakni dari Adam dan Hawa dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa lafal Syu'uuban adalah bentuk jamak dari lafal Sya'bun, yang artinya tingkatan nasab keturunan yang paling tinggi dan bersuku-suku, supaya kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentang kalian (lagi Maha Mengenal apa yang tersimpan di dalam batin kalian. (Syaikh Jalaluddin as-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahally, Tafsir Al-Jalalain)

Berbicara tentang suku; masih menurut Syaikh Jalaluddin as-Suyuthi dan Syaikh Jalaluddin al-Mahally, kedudukan suku berada di bawah bangsa, setelah suku atau kabilah disebut Imarah. Setelah Imarah lalu Bathn. Sesudah Bathn adalah Fakhdz dan yang paling bawah adalah Fashilah. Dari beragam istilah di atas dapat kita contohkan misalnya Khuzaimah. Khuzaimah adalah nama suatu bangsa, Kinanah adalah nama suatu kabilah atau suku, Quraisy adalah nama suatu Imarah, Qushay adalah nama suatu Bathn, Hasyim adalah nama suatu Fakhdz, dan Al-Abbas adalah nama suatu Fashilah.

Selanjutnya, lafal ta'aarafuu asal katanya adalah tata'aarafuu, kemudian salah satu dari kedua huruf Ta dibuang sehingga jadilah Ta'aarafuu; maksudnya supaya sebagian dari kalian saling mengenal sebagian yang lain. Melalui surah al-Hujurah ayat 13 inilah dasar-dasar dalam menyikapi perbedaan diatur sesempurna mungkin. Allah menciptakan perbedaan pasti untuk satu tujuan. Salah satunya seperti di atas tadi agar bisa saling mengenal. Setelah kenal, saling menyapa. Setelah terbiasa menyapa, berusaha saling memahami satu sama lain, selanjutnya; setelah saling memahami; bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing.

Betapa istimewa dan luar biasanya firman Allah di atas dengan kondisi negara kita yang sarat akan budaya. Kemajemukan yang mungkin tidak ditemukan di negara lain. Sehingga, meski al-Quran turun lebih dari seribu tahun yang lalu, masih sangat relevan untuk kita praktikkan nilai-nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Dalam surah al-Hujurat ayat 13 di atas pula mengisyaratkan bahwa perbedaan itu ada bukan untuk saling membanggakan ketinggian nasab atau keturunan, bukan untuk merendahkan suku maupun agama lain, bukan pula untuk mencemooh bahasa maupun adat istiadat suku lain, sebab sesungguhnya perbedaan ada agar kita bisa saling mengenal, melengkapi, mengasihi untuk memeroleh derajat kemuliaan di sisi-Nya. Dan kemuliaan itu hanya mampu diperoleh bagi mereka yang memiliki ketakwaan.

Like our facebook page if you like this article!
Category: ISLAM


Curator Introduction

no comments

Follow Moeslema on SNS