484
  2016-08-11    

Japan Islamic Beauty Trip: Day Three, somehow I’d like to be a student in Waseda University

Reshare cerita perjalanan pertama saya ke Jepang

Dian Kurnia Utami 71 views

Assalaamu’alaikum!

Di hari ketiga, saya berkesempatan mengunjungi dua orang mahasiswi asal Indonesia yang melanjutkan studinya di Waseda University dan makan di sebuah restoran yang menyediakan bento halal. Dari rumah kami, Universitas Waseda tidak begitu jauh. Sekitar 30-40 menit tapi sudah termasuk jalan kaki. Jadi lama atau tidaknya bergantung kepada kecepatan kita berjalan kaki.

Saya dan Mba Fida di perjalanan menggunakan metro

 

Saya, Mba Fidan dan Mas Fuad. Kebayang kan tangguhnya mereka kemana-mana bawa kamera dan perkakas?

 

Kami janjian di depan salah patung Universitas Waseda. Tidak perlu menunggu lama untuk bertemu dengan kedua teman saya. Perkenalkan ini Rani dan Sarah.

BTS opening di Ookuma Kinen Koudou

 

Mas Armand, Mas Fuad, dan Mba Carol yang selalu on action

 

Mba intan yang kalo foto candid super sekali hasilnya...

 

Sarah, Saya, Rani, dan Goodiebag Wardah
Ps: Clutch yang saya pake juga clutch Wardah loh moeslemate...

 

Mereka ini lulusan Sastra Jepang, Rani lulusan Universitas Padjajaran dan Sarah lulusan Universitas Gajah Mada. Saya? Lulusan Universitas Jenderal Soedirman, InsyaaAllah. Mereka berdua melanjutkan jenjang S2 di Universitas Waseda. Beda jurusan sih keduanya. Oh iya, mereka ini juga teman dari Teh Azki loh moeslemate, lebih tepatnya sih teman Teh Azki dulu terus jadi teman saya juga.hehehe

Begitu ketemu kami cerita-cerita di bangku yang ada di pinggiran gedung kampus. Suasanya bagus banget, ini kampus tapi bawaannya romantis karena daun-daun di pepohonanya mulai menguning. Bisa dibilang banyak sudut di kampus ini yang instagramable banget. Kami semua seneng banget foto-foto disini.

Rani, Sarah, dan saya cerita-cerita soal kehidupan kampus. Kalo liat mereka rasanya pengen kuliah di Jepang juga. Ini memang baru semester pertama mereka, tapi rasanya menyenangkan sekali mendengarkan cerita mereka. Sebagai muslim sendiri, di Universitas Waseda, Alhamdulillah adalah hal yang cukup biasa. Artinya cukup banyak mahasiswanya yang beragama muslim. Bahkan di Universitas ini ada mushollanya loh moeslemate. Kata Teh Azki ada di gedung dua, tapi kami belum sempat kesana. Tempat kami duduk-duduk ada di dekat gedung 22 (atau 21) dan ini bukan gedung yang dekat dengan gedung 2. Sebenearnya karena hal ini pula kadang perlu pintar-pintar ambil waktu dan menggunakan lokasi seperti ruang kelas bersama atau ruang kosong untuk sholat. Yang penting, InsyaaAllah tempatnya bersih dari najis dan sholatnya khusyuk.

Di dalam gedung ini, saya sempat melihat video orang muslim di sebuah tv yang ada di pinggir lorong gedung. Setelah saya bertanya Rani menyampaikan bahwa cukup banyak warga muslim Jepang, baik mualaf maupun karena keturunan campuran, yang bersekolah disini. Waaah Alhamdulillah. Masalah pengajian, Rani dan Sarah biasanya mengikuti pengajian dari Perkumpulan Pelajar Indonesia atau PPI Waseda. Seru yaa bisa kumpul bareng, sama-sama dari Indonesia, sama-sama bisa nambah ilmu agama, bonus sama-sama bisa ada di Jepang. Saya pribadi paling senang jika bisa bertemu dengan sesama Warga Negara Indonesia di luar negeri, apalagi ketika kita harus menetap di negara orang untuk waktu yang cukup lama.Oh iya di Universitas Waseda ini katanya juga ada pengajian, tapi Rani dan Sarah juga baru mengetahuinya beberapa hari sebelum kami bertemu sehingga belum pernah mengikutinya.

Kesimpulan dari cerita-cerita soal kehidupan sebagai mahasiswa adalah kehidupan kampus di Jepang (lebih tepatnya di Universitas Waseda) pada dasarnya tidak berbeda jauh, dan yang namanya anak kos harus hemat. Akan tetapi, ada hal yang unik ketika kita kuliah di luar negeri. Temannya lebih bilingual, pola hidupnya beda (apalagi ada beberapa kebiasaan di Jepang yang berbeda dengan Indonesia), nilai tukar mata uangnya, dan kalau di luar negeri kita dituntut untuk lebih mandiri. Pengen *drolling

Hari mulai siang dan hampir jam satu. Nah kebetulan Rani, Sarah, dan teh Azki sudah me-reserve tempat buat kita di salah satu restoran yang menjual bento halal di dekat kampus, Ineya Derikakona (tolong dikoreki kalau salah, soalnya ini sepanjang yang saya baca di tulisan depan toko bacaannya begini ._.). Just FYI, restoran ini dikelola oleh kakek dan nenek yang merupakan kakak-beradik. Kakek ini dulu juga pernah belajar di UGM loh moeslemate. Seiring dengan berjalannya waktu, Universitas Waseda memiliki banyak mahasiswa yang berasal dari luar negri (serius saya ketemu relatif banyak bule waktu kesisni) dan juga banyak mahasiswa/i-nya yang merupakan muslim. Ini lah yang akhirnya membuat kakek memutuskan untuk menjual makanan halal agar mahasiswa muslim yang ada di Universitas Waseda lebih mudah untuk mendapatkan makanan.

Kakek pemilik Ineya

 

Memang sih sebenarnya meski Jepang sedang gembar-gembor promosi sebagai negara muslim friendly, untuk restoran halal bisa dibilang belum banyak. Tapi kalau moeslemate mau pergi ke Jepang, situs ini bisa jadi referensi soal restoran halal yang ada di Tokyo, Kyoto, Nagoya, Osaka, dan Kobe. Semoga makin banyak restoran yang menyediakan makanan halal dan tempat untuk sholat yaa di Jepang. Amiin yaa Rabbal’aalamiin.

Restora kakek memang tidak begitu besar, di lantai satu ada tempat duduk macam di sevel sementara di lantai atas ada semacam tatami room. Restorannya menurut saya nyaman sekali. Kami semua makan di lantai atas. Menu makan siang yang saya makan hari itu adalah menu makan paling lengkap yang saya makan selama di Jepang. Mulai dari ada melon, kue sus, bento, teh, bahkan sampe yoghurt. Kalian ingat gambar bento yang saya upload di Instagram saya? Itu adalah bento yang kami makan.

Menu utama belum datang? Tenang ada menu pembuka :9

 

Saya, Aulia, dan Airin foto karena cahaya ruangannya foto able banget ^^

 

Been so long since i eat slice of melon, bukan karena gaada melon tapi karena gabegitu doyan melon. Tapi melon yang di kasih Kakek sungguh bikin nagih T_T

 

Watashi tachi no bento :9

 

Menu dan harga bento di Inaya, harganya sekitar setengah kali yang saya lihat di stasiun loh ._.

 

Sesudah makan, foto lagi :)

 

Kembali bahas soal kakek, beliau bisa berbahasa Indonesia loh moeslemate. Jadi kami bisa ngobrol lebih. Kakek ini punya vila di Sukabumi dan sekitar sekali dalam setahun beliau berlibur di Sukabumi. Duh kek, kalo lagi ke Sukabumi bilang yaaa. Ada satu hal yang paling menarik begitu kami tiba…

Tulisan ini ya ampun, kami semua terharu.

Kakek, Nenek, dan papan selamat datang

 

Oia kakek ini baik banget, asal kalian tau moeslemate, hari itu harusnya restoran kakek ini tutup loh. Tapi beliau khusus buka hari itu supaya kami bisa makan siang disana, mana usut punya usut memang setiap restoran ini buka cuma kakek dan nenek yang kerja buat melayani tamunya. Ga tegaa T_T

Terima kasih kakek dan nenek untuk waktunya, terima kasih untuk makanannya. Enak sekaliii!!! (dan instagramable banget >.<)

Setelah menghabiskan siang disana, karena Rani dan Sarah ada urusan, kami memutuskan untuk berpisah. What a short time but it is so fun! Terima kasih buat Rani dan Sarah atas waktunya dan informasinya. Saya ingin jadi adik kelas kalian rasanya :”)

All Team dan Kakek Nenek di depan Inaya

 

Sampai ketemu di lain waktu!

Lots of Love

Dian Kurnia Utami

Wassalaamu’alaykum

Like our facebook page if you like this article!
Category: TRAVEL


Curator Introduction

no comments

Follow Moeslema on SNS