4360
  2017-08-10       rodacinta.blogspot.co.id

3 Cara untuk Atasi Kegalauan Melihat Teman yang Menikah Lebih Dulu

Simak 3 cara mengatasi kegalauan ketika melihat teman yang sudah menikah lebih dulu daripada kita. Nggak mau jadi orang yang galau, kan? Happy Reading!

Rachmah Dewi 118 views

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Moeslemates!

Mungkin banyak di antara kita yang cenderung Baper (Bawa Perasaan) ketika melihat foto-foto nikahan teman-teman, saudara banyak berseliweran menghiasi sosial media. baik itu instagram, facebook, path. Jujur. perasaan baper nikah tersebut memang manusiawi terjadi.

Apalagi jika usia-usia kita sudah berada di antara 24-28 tahun, di mana dalam usia tersebut adalah usia yang termasuk kategori "sudah seharusnya nikah." Namun ada cara agar kita mengatasi kegalauan ketika melihat teman yang menikah lebih dulu. Simak penjelasan saya berikut ini:

1. Perbanyak Mendekatkan Diri pada Allah Subhanahu Wataála

QS. Ar-Ra'd ayat 28

Point pertama tentulah ini, karena apa? gak ada hal yang paling menenangkan jiwa-jiwa yang telah dirundung kegalauan kecuali dengan mendekat kepada Allah Subhanahu Wataála.

Mohonlah pada-Nya agar diberikan hati yang lapang, jiwa yang mudah menerima ketentuan-Nya.Kalian ingat kan janji Allah, bahwa semua makhluk diciptakan berpasang-pasangan. Ada siang, ada malam, ada panas ada hujan, ada aku dan nanti ada kamu #eh hehehe

Memang sebagai manusia rasa baper (bawa perasaan) itu ada ketika melihat satu persatu teman-teman, saudara, handai taulan, telah menemukan jodoh terbaiknya, pasangan hidupnya. Mengadulah kepada-Nya. Allah tahu kapan kita semua yang belum mempunyai pasangan ini, untuk menikah.

Perbanyak melakukan amalan shalih, agar semakin disayang Allah SWT. Mau jodoh yang shalih? ya shaihahkan diri kita dulu. Ketika kita mengingat Allah SWT, maka Allah SWT juga akan ingat pada kita. Dan Insya Allah gak ada deh tuh galau-galauan lagi.

2. Perbanyak Baca Buku untuk Nambah Ilmu

Point kedua dari saya, saya biasanya melakukan hal ini ketika saya galau. Cieeh galau! Hahaha. Maksudnya, melihat teman-teman menikah lebih dulu itu, bukan untuk terus-terusan diglauin, kan? Coba, banyak kok hal-hal yang bermanfaat yang lain yang kita bisa lakukan, untuk nambah ilmu mempersiapkan pernikahan, salah satunya banyak baca buku terkait pernikahan.

Teman saya pernah berkata “ilmu itu bisa didapat dari mana saja. tapi, ilmu yang paling banyak itu didapat dari baca buku. Menikah itu butuh ilmu, karena ilmu pernikahan itu gak didapat di bangku sekolah.” Mendengar kalimat itu dari teman saya, saya sekarang ini, jadi rajin membaca buku terkait pernikahan. Dan ternyata seru! Kalau saya, membaca buku itu bisa meminimalisir kegalauan hati.

Biasanya, untuk mengatasi kegalauan saya baca-baca buku penambah semangat saya. saya mau merekomendasikan buku-buku yang menurut saya bagus untuk dibaca bagi para single.

yaitu:

1. Buku Aku Tersentuh Cinta karya Arif Rahman Lubis
2. Buku Mahkota Pengantin karya Majdi Bin ManshurBin Sayyid Asy-Syuri

Untuk nomor satu, kenapa saya bilang bagus? karena dalam buku ini, tersaji dengan lengkap berbagai kata-kata yang menambah motivasi. Bagaimana mendapatkan jodoh idaman, bagaimana memantaskan diri menjadi pribadi yang baik, bagaimana menjadi pribadi yang taat, dan sebagainya.

Untuk nomor dua, menurut teman-teman saya yang sudah menikah, buku ini wajib dibaca bagi para single yang mau dan ingin menikah. karena dalam buku ini, tersaji hal-hal seputar pernikahan yang bisa menjadi pembelajaran kita untuk mengarungi kehidupan berumah tangga nanti.

Source: dokumen pribadi

Gambar buku Aku Tersentuh Cinta

buku "Mahkota Pengantin"

3. Buang Segala Pikiran Negatif yang Datang Menghantui

“Hayolooo si A udah nikah, si B udah dilamar. Terus lu kapan? Masih aja di usia setengah abad sendiri. Hayoloo, ditinggal nikah temen terus deh.” Pikiran semacam ini terus menghantui benak para single ketika melihat foto-foto pernikahan berseliweran di sosial media. Walaupun mau mengelak dari pemikiran itu, rasanya pasti akan tetap kepikiran, kan? Yuk, hidup mah dibuat simple aja. Buang jauh-jauh deh pikiran kayak begitu.

Balik lagi coba ke point nomor dua, gak ada yang namanya lomba-lombaan dalam pernikahan. Karena kegalauan tidak berakhir hanya dengan pernikahan kok. Kata temen saya yang udah menikah nih, “segala beban hidup belum berakhir ketika sudah menikah. Justru setelah menikah, kita masih akan diuji oleh hal-hal lain. Berhentinya manusia diuji itu adalah ketika mati.

So, jangan berpikir enaknya aja setelah nikah, karena masih akan ada ujian yang lain.” Begitu sih. Jadi intinya apa? Jangan berpikiran negatif dengan perkataan semacam ini di pikiran kita “kenapa sih gue belom dapet jodoh kayak temen-temen yang lain? Apa karena gue kurang menarik? Kurang asyik? Kurang gaul? Padahal kalau boleh GR dikit sih, temen-temen gue yang banyak udah menikah itu, gak lebih pinter dan cantik daripada gue, tapi mereka ada jodohnya. Lha, gue masih begini-begini aja.” Kurang-kurangin deh mikir yang macam begitu.

Kamu nggak perlu jadi perempuan yang lebih lemah hanya karena pria-pria suka sama perempuan manja. Kamu ga perlu jadi perempuan pura-pura bodoh hanya karena pria minder sama perempuan yang pendidikannya tinggi. Kamu juga nggak harus menggampangkan diri untuk menerima ajakan sembarang pria hanya karena kamu kesepian.

Source: www.imgrum.org

Jika Allah masih belum mempertemukan dengan jodohmu, percayalah, tandanya Allah masih ingin terus melihat kamu menjadi pribadi yang terbaik. Karena jodoh layaknya cermin. Jodoh itu sama denganmu. Jika kamu baik, InsyaAllah jodohmu juga baik.

Selagi masih sendiri, coba yuk terus perbaiki diri. perbanyak ibadah dan mendekat pada Allah Taála. Maksimalkan juga untuk membahagiakan kedua orangtua kita. memang sejatinya, berbakti pada kedua orangtua itu tak hanya pada saat kita masih berstatus lajang atau belum menikah.

Berbakti pada kedua orangtua itu seumur hidup. Namun, maksimalnya untuk membahagiakan orangtua adalah selagi kita belum menikah ini. Minta didoakan oleh kedua orangtua, minta restu darinya. Insya Allah jodoh yang baik akan Allah beri sesuai dengan keinginan kita, karena orangtua kita pun telah ridho kita menikah.

Rachmah Dewi Rachmah Dewi
Moslems | 50% Author 50% Writer | News, Story, Socmed Ent...
Like our facebook page if you like this article!
Category: ISLAM


Curator Introduction
Rachmah Dewi
Rachmah Dewi
Moslems | 50% Author 50% Writer | News, Story, Socmed Enthusiast

no comments

Follow Moeslema on SNS