4112
  2017-06-26       www.instagram.com

Kisah Sahabat Yang Tidak Pernah Menggantungkan Kesenangan Pada Urusan Duniawi

Kezuhudan adalah salah satu yang paling dihindari oleh sahabat yang satu ini. Beliau hidup dengan penuh keyakinan kepada Allah dan atas perlindungan-Nyalah ia akan terhindar dari segala macam bencana. Siapakah dia?

Lidya O. 91 views

Assalamu'alaikum Moeslemates. Kisah sahabat kali ini datang dari sesosok yang tidak pernah menggantungkan kesenangannya pada urusan duniawi. Siapakah dia?

Siapakah Dia?

Utsman bin Maz'un adalah sahabat Rasulullah yang masuk Islam pada golongan awal atau as sabiqunah awwalin. Pada awal keislamannya, beliau pernah berhijrah ke Habasyah untuk menghindari siksaan kaum kafir Quraisy. Dalam kehidupannya, beliau tidak pernah luput dari ancaman mereka yang tidak senang dengan keberadaan agama Islam.

Suatu ketika terdengarlah kabar bahwa kaum Quraisy telah beriman dan orang-orang Muhajirin datang kembali ke Mekah. Namun pada kenyataan itu hanyalah tipuan belaka. Perangkap-perangkap pun telah dipersiapkan dan Utsman bin Maz'un memimpin rombongan kala itu.

Ketekunan Utsman Dalam Mempelajari Agama

Sejak masuk Islam, Utsman sangat tekun dalam beribadah terutama pada malam harinya bagai rahib dengan ibadah shalat dan dzikirnya. Siang harinya bagai pahlawan yang berjuang membela kebenaran. Tidak henti-hentinya beliau beribadah siang dan malam tanpa perlu memikirkan hal-hal yang berbau duniawi. Rupanya beliau telah merasakan manisnya beribadah kepada Allah.

Namun tahukah Moeslemates bahwa pakaian yang dipakai Utsman adalah pakaian usang yang telah sobek-sobek yang ditambah dengan kulit unta. Beliau tidak sama sekali tertarik untuk menyenangi dunia sampai-sampai untuk urusan menggauli istrinya pun tidak pernah dijadikan prioritas. Rasulullah yang amat disayanginya pun membungkuk dan mencium kening beliau seraya membasahi kedua pipinya dengan derai air mata. Wajah Utsman pun tampak bersinar sesaat sebelum ajal memanggilnya. (Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah Khalid Muh. Khalid Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia).

Kematian Utsman Di Madinah

Suatu ketika beliau melewati majelis orang kafir Quraisy yang sedang mendengarkan lantunan syair dari seorang penyair bernama Labid bin Rabiah. Utsman bin Maz’un yang melihat itu pun ikut memberikan tepuk tangan ketika Labid menyampaikan salah satu baitnya,

"Ingatlah, segala sesuatu selain Allah akan binasa." Labid pun meneruskan bait syairnya,

"Dan semua nikmat niscaya pasti sirna." dengan spontan Utsman berteriak,

"Dusta! Nikmat surga tidak akan pernah sirna!"

Mendengar ada orang yang membantah syairnya, Labid pun menjadi marah. Karena bantahannya itu, Utsman pun dipukul oleh kaum Quraisy hingga matanya bengkak. Pamannya, Walid bin Mughirah berkata:

"Kalau saja engkau masih berada dalam perlindunganku, matamu tidak akan mendapat musibah seperti itu!"

Utsman pun menjawab, "Justru aku merindukan ini terjadi padaku dan mataku yang satunya menjadi iri dengan apa yang dialami oleh saudaranya. Aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih mulia daripada kamu."

Masya Allah, keyakinan Utsman akan perlindungan Allah dan ketauhidannya yang mantap serta tidak sedikit pun ia menoleh pada keindahan dunia (zuhud) membuat Umar pun berkata: "Alangkah sedihnya orang yang paling mulia di antara kita telah meninggal dunia."

Utsman merupakan sahabat pertama yang meninggal di Madinah karena sakit dan orang muslim pertama yang pertama kali dimakamkan di Baqi (pemakaman mulia keluarga dan para sahabat Nabi). Beberapa waktu kemudian pun putri Rasulullah dan istri Utsman bin Affan, Ruqayyah binti Muhammad meninggal dan beliau bersabda:

"Pergilah wahai putriku! Susullah saudara kita yang saleh, Utsman bin Maz'un!"


Masya Allah. Belajar dari kisah Utsman yang mengenyampingkan urusan dunia membuat kita merasa iri. Coba deh kita perhatikan diri kita dan sekeliling. Adakah sempat terbesit dalam benak bagaimana ketika kita meninggal nanti? Apa yang kita akan bawa ke alam kubur? Siapa sajakah orang-orang yang akan setia mendoakan kita? Tentunya bukan doa dan ucapan belasungkawa yang diposting di sosial media. tetapi doa yang tulus dan penuh harapan agar kita selamat dari siksaan kubur. Mungkin di era globalisasi sekarang ini semakin banyak dari kita yang sudah mulai meninggalkan agama, menyeru kepada sesuatu yang terlihat benar namun hanya bayang-bayang belaka. Dan banyak-banyaklah kita mengingat kematian. Sehingga dunia tidak lagi kita cintai dan prioritaskan karena sesungguhnya kita hanya singgah sebentar saja di dunia ini. Kekekalan abadi hanyalah di akhirat nanti. Wallahu'alam bisshawab.

Lidya O.
Lidya O.
Japanese Language Teacher & Interpreter.
Like our facebook page if you like this article!
Category: ISLAM


Curator Introduction
Lidya O.
Lidya O.
Japanese Language Teacher & Interpreter.

no comments

Follow Moeslema on SNS