4111
  2017-06-27       www.instagram.com

Kisah Penulis Yang Mengabdi Bagi Kejayaan Islam

Siapakah sahabat Rasulullah yang mengabdi bagi kejayaan Islam dengan kemampuannya bersyair?

Lidya O. 64 views

Assalamu'alaikum Moeslemates. Kamu seorang muslimah yang juga aktif sebagai penulis kurator di Moeslema? Atau sekadar penulis blogger? Bahkan mungkin salah satu di antara kalian ada yang senang dengan syair-syair atau sudah menerbitkan buku? Kalau begitu langsung saja kita kenalan dengan sahabat Rasulullah yang satu ini. Beliau adalah Abdullah ibnu Rawahah.

Siapakah Dia?

Ketika kaum Muslimin terjun ke medan perang demi membela kalimat Allah, Abdullah bin Rawahah turut tampil membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, dan Khaibar. Ia menjadikan kalimat syairnya sebagai slogan perjuangan. "Wahai diri! Seandainya kamu tidak tewas terbunuh dalam perang, maka kamu akan mati juga!"

Abdullah adalah seorang penulis dan penyair ulung. Sejak memeluk Islam, beliau membuktikan kemampuan bersyairnya untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Rasulullah pun sangat menyukai dan menikmati syair-syair yang dibuat beliau serta menganjurkannya untuk lebih tekun dalam membuat syair. Kemudian, beliau juga berperan penting pada saat penyebaran Islam dan berkat usaha beliau juga, semakin banyak orang masuk Islam. Masya Allah.

Dan begitu ayat di bawah ini turun, Abdullah pun pernah bersedih.

"Dan para penyair, banyak pengikut mereka orang-orang sesat,"
Source: QS. Asy-Syu'ara: 224

Namun, Allah menghiburnya dengan melanjutkan ayat tersebut.

"Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka di aniaya."
Source: QS. Asy-Syu'ara: 227

Cara Abdullah Mengucap Syair

"Wahai jiwa,
Jika engkau tidak gugur di medan juang,
Engkau tetap akan mati."
Source: Syair Abdullah

Suatu ketika, Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba datanglah Abdullah dan Rasulullah bertanya kepadanya:

"Apa yang kau lakukan jika hendak mengucapkan syair?"

Abdullah pun menjawab:

"Kurenungkan dulu kemudian baru kuucapkan."

Kemudian, Abdullah pun mengucapkan syair setelah merenungkannya sesaat.

Wahai putra Hasyim,
sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia
dan memberimu keutamaan,
di mana orang lain takkan iri.
Dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakini pada dirimu.
Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka.
Seandainya engkau bertanya dan meminta pertolongan kepada mereka
untuk memecahkan persoalan,
tiadalah mereka hendak menjawab atau membela.
Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang engkau bawa.
Sebagaimana Ia telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa.
Source: Syair Abdullah

Mendengar syairnya tersebut, Rasulullah pun bergembira dan ridha kepadanya. Beliau bersabda:

"Dan kamu pun akan diteguhkan oleh Allah."

Abdullah Syahid Di Medan Perang

Source: rimanews.com

Pada waktu Perang Mu'tah, kaum muslimin yang sangat sedikit pasukannya menghadapi bala tentara Romawi yang hampir 200.000 orang. Dan saat itu salah seorang berkata, "Sebaiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah; memberitakan bahwa jumlah musuh kita lebih besar. Mungkin kita bisa menambah pasukan atau jika diperintahkan untuk tetap maju maka kita patuhi."

Namun Abdullah berdiri di depan barisan pasukan muslim.

"Kawan-kawan sekalian! Demi Allah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasarkan bilangan; kekuatan atau jumlah pasukan kita. Tapi kita memerangi mereka demi mempertahankan agama kita ini; yang dengan memeluknya, kita dimuliakan oleh Allah. Ayo maju! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita raih; kemenangan atau syahid di jalan Allah!"

Mereka pun berteriak:

"Sungguh, demi Allah, benar apa yang dikatakan Rawahah!"

Perang pun mulai berkecamuk. Pemimpin pasukan pertama, Zaid bin Haritsah gugur di medan perang dan syahid. Demikian pula Ja'far bin Abi Thalib. Kemudian Abdullah pun memimpin pasukan dan meraih panji perang dari tangan Ja'far. Hingga akhirnya beliau wafat menyusul kedua sahabatnya; Zaid dan Ja'far.

Rasulullah pun yang tengah berkumpul dengan para sahabat tiba-tiba terdiam mengingat bagaimana ketiga manusia mulia itu gugur di jalan Allah. Rasulullah memandang para sahabatnya dan berkata:

"Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Ja'far, ia bertempur dan syahid juga. Kemudian panji itu dipegang oleh Abdullah Ibnu Rawahah dan ia bertempur, lalu gugur sebagai syahid."

Rasulullah kemudian terdiam sebentar, sementara mata beliau masih berkaca-kaca, menyiratkan kebahagiaan, ketentraman dan kerinduan. Kemudian beliau bersabda,

"Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku di surga."


Masya Allah. Semoga kisah dari Abdullah Ibnu Rawahah membuat kita terinspirasi untuk terus berkarya dalam tulisan-tulisan yang bisa menjadi ladang amal kita. Aamiin.

Lidya O.
Lidya O.
Japanese Language Teacher & Interpreter.
Like our facebook page if you like this article!
Category: ISLAM


Curator Introduction
Lidya O.
Lidya O.
Japanese Language Teacher & Interpreter.

no comments

Follow Moeslema on SNS