3939
  2017-06-03       dok. Pribadi

Alhamdulillah, "syah" (part 1)

Yuk, simak pengalaman ketika sedang ta'aruf. Siapa tahu bisa menghilangkan kegalauanmu dalam masa penantian menunggu sang pangeran berkuda putih. Artikel asli kunjungi www.dindahakeem.com

Dinda Hakeem 67 views

Hari itu saya bener-bener masih yang nggak nyangka jika hari itu saya akan menikah, mengikatkan diri pada satu orang. Sampai maut memisahkan InsyaaAlloh.

Saya termasuk penderita insomnia berat, yang artinya susah banget tidur kalo malem hari. Kalo kata uzee, Nocturnal Syndrom. Wkwkwk apaan lagi tuh bocah. Ini penyakit, saya masih cari dan mencoba berbagai cara untuk menghilangkan insomnia dengan tidak bergantung pada obat-obatan. Anehnya, malamnya sebelum hari H, saya merasakan ketenangan seperti yang di ceritakan teman sekampus saya, namanya Dhila. Bahwa ketika dia akan menikah, justru dia tidur lebih nyenyak dari pada biasanya. Hal yang sama pun terjadi kepada saya. Saya tidur sangat nyenyak, dan nggak ngerasa letih sedikitpun. Terharu, you know. You know what, I got up on time. Saya harus bangun jam 3 pagi hari itu, karena jam 4 saya harus segera di make up. Alhamdulillah, pada hari sabtu 28 Januari 2017 kami, Adinda Dewi dan Muhammad Rizky Rafidianto telah resmi menjadi sepasang kekasih halal di mata Allah SWT dan Negara.


Jadi sebelum saya cerita, saya akan membagi cerita ini menjadi beberapa Part, karena nantinya saya akan menulis beberapa detil cerita. saya suka detil, yang tidak mungkin akan saya jadikan satu di sati postingan saja. Okay, here we go....
Kami kenalan dari proses ta’aruf yang bisa dibilang mengejutkan. Semua orang nanya, gimana ketemunya din? Wiihh.. ta’aruuf.. certain dooong.. iihh.. envy…

Source: dok. Pribadi

Saya sendiri juga nggak pernah memperkirakan ini. Kalo ditanya gimana awalnya, saya sendiri juga ngerasa aneh. Karena pada suatu sore saya di datangi oleh seorang ustadz yang qadarullah adalah pegawai mudir saya di Ma’had ‘Aly. Yaitu ustad Roem Rowi. Waktu itu saya lagi sama Nia, anaknya temen saya yang masih SD kelas 1. Beliau basa-basi sebentar untuk cari tau status saya, katanya waktu beliau cerita setelah semua proses ini selesai. Saya benar-benar masih ingat detailnya. Waktu itu jam 4 sore, di bulan april 2016 dan saya duduk di meja kantin. Ustadz tersebut langsung meminta nomor telepon saya dan dengan bodohnya saya berikan. Saya kasih nomor ke orang asing dengan baik-baik saja tanpa merasa aneh. Beneran loh itu. Setelahnya baru kemudian saya merasa bodoh, “ngapain gue kasih ya tadi, kok uun banget. Mana nggak kenal lagi.”

Namun Alhamdulillah, qodarulloh. Ustadz tersebut amanah. Malamnya beliau langsung menghubungi saya, dan minta foto saya. Oke kali ini saya berfikir. Kasih nggak ya? Belum lama setelah ustadnya meminta foto saya, beliau bercerita bahwa foto saya akan ditunjukan ke ibunya terlebih dahulu, karena ibunya mas rafi yang meminta tolong ke ustadz untuk mencarikan. Okelah, akhirnya saya kirim foto saya dan setelah itu beliau memberikan nomor kontak mas rafi kepada saya. Saya berfikir, “lah, ngapain gue dikasih kontak yak. Yah, yaudah disimpen aja”. Pertama kali saya pandangi foto profilnya di Whatsapp, pertama kali yang terlintas di benak saya adalah, ini orang Arab? Kayaknya kalem banget mukanya. Tidak seperti saya yang, you know lah. Jadi ibarat dia Luke Brandon, saya adalah Rebecca Bloomwood di Confession of a Shopaholic. Semoga saya bisa ketularan jadi kalem. Tapi menurut ppengalaman, Uzee sama suaminya. Suami si Uzee kalem banget, tapi Uzee tetep aja kayak begonoh tingkahnya. Yaudalah ya, saling melengkapi. Kemudian setelah itu beberapa hari kemudian, tidak ada kabar, dan lewat aja gitu. Seperti nggak menarik. Kemudian saya di kenalkan oleh dosen saya dengan teman dekatnya. Akhirnya saya skip mas Rafi, dan mencoba menjajaki teman dari dosen saya ini. Namun perkenalan tidak berjalan lama, dan saya tidak menemukan kecocokan.

Part menariknya disini adalah, saya pernah secara iseng melihat lekat-lekat foto mas Rafi, yang waktu itu masih sepenuhnya asing buat saya. Jadi ada momen dimana terjadi perdebatan sengit di dalam pikiran saya. Hati saya bilang, ini yang nanti akan jadi suami lu din. Otak ini rasanya membantah terus. "ah ngawur mendahului takdir Alloh. Masak sih ini suami gue. yakin lu?" tapi hati ini rasanya nggak pernah seyakin itu. Akhirnya, hati bilang. "oke, lihat aja nanti"

Setelah sekitar 3 bulan berlalu, ketika pekan-pekan menjelang puasa akan berakhir, kalo nggak salah waktu itu awal bulan Juli sang Ustadz kembali menghubungi saya. 2 hari setelah hari raya Idul fitri, sang Ustadz memberikan sebuah titipan katanya, dari ibunya mas Rafi. Sang Ustadz memberikan sebuah map merah jambu yang di bungkus dengan rapi. Map itu berisi sebuah perkenalan diri, yang biasa di sebut proposal nikah. Berisi tentang dirinya, gambaran umum tentang cara pandangnya, keluarganya, hal yang dia suka maupun dia tidak suka, kelebihan serta kekurangnnya. Serta kriteria yang diharapkan dari seseorang yang dia harapkan nantinya akan menjadi pendamping hidupnya. Dari beberapa proposal yang pernah saya terima, proposal ini yang paling menarik. Gaya bicaranya di proposal tidak kaku dan tidak membosankan. Karena saya pikir awalnya mas Rafi kalem, tapi membosankan. Saya jatuh cinta dengan cara pikirnya yang sederhana namun luas dan menyeluruh. Lumayan up to date juga. Wkwkwkwk. Beberapa hari kemudian, sang Ustadz nanya lagi, perihal mas Rafi ingin main kerumah…..

bersambung

Dinda Hakeem
Dinda Hakeem
Hi! Nice to meet you (:
Like our facebook page if you like this article!
Category: ISLAM


Related Tags
Curator Introduction
Dinda Hakeem
Dinda Hakeem
Hi! Nice to meet you (:

no comments

Follow Moeslema on SNS