2630
  2017-01-17       dokterkecil.wordpress.com

Bunda Cerdas, Cegah Anak dari Stunting!

Stunting adalah tinggi badan terhadap umur lebih rendah dari ukuran normal: < -2 SD. Anak yang mengalami stunting akan terjadi tinggi badan yang rendah dari keadaaan normal. Penyebabnya selain status gizi, pola asuh dan kesehatan lingkungan juga mempengaruhi. Dampak yang ditimbulkan malnutritition (kekurangan atau kelebihan gizi) pada periode ini bersifat permananen dan berjangka panjang. Mengapa permanen dan berjangka panjang? Karena proses terjadinya Stunting bersamaan dengan proses terjadinya hambatan pertumbuhan dan perkembangan organ tubuh lainnya, seperti otak, jantung, paru-paru, ginjal, dll

Triwitaan 107 views

Menurut Global Nutrition Report 2015 menyatakan bahwa hampir seluruh negara didunia menghadapi berbagai bentuk masalah gizi dengan derajat yang berbeda-beda. Indonesia termasuk negara yang memiliki masalah gizi yang kompleks. Diketahui bahwa prevalensi masalah gizi balita Indonesia pada satu dekade terakhir ini cenderung stagnant bahkan sedikit meningkat. Dari data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 tergambar bahwa hampir 9 juta atau 37.1% balita Indonesia mengalami stunting (37,2%), dan sekitar 3 juta atau 12.1% balita Indonesia mengalami wasting/kurus (12,1%). Selain itu, prevalensi wanita usia subur dengan risiko Kurang Energi Kronik (KEK) juga cukup tinggi pada semua kelompok umur, diitambah dengan tingginya anemia pada ibu hamil dan balita, masing-masing sekitar 37.1% dan 28.1%. Namun disisi lain, prevalensi gizi lebih pada balita dan orang dewasa mulai mengkhawatirkan, yaitu masing-masing 11.9% dan 26.6%.

Source: detikFood

Anak yang mengalami stunting telah terjadi kekurangan asupan gizi dalam waktu khronis dan/atau berulang, yang seringkali terjadi pada usia dini. Nutrisi yang didapat pada saat hamil sampai lahir memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan anak yang mengalami stunting. Selain status gizi Ibu hamil, pola asuh dan kesehatan lingungan juga mempengaruhi. Dari pola asuh kita dapat lihat dari pemberian makan dan pencegahan penyakit. Serta dari kesehatan lingkungan, daerah lingkungan sekitar rumah, seperti bangunan saluran air bersih dan saluran pembuangan air juga terpengaruh.

Stunting merupakan pertumbuhan linear yang gagal untuk mencapai potensi genetik sebagai akibat dari pola makan yang buruk dan penyakit.
Source: (Fitri, 2012)
Stunting merupakan keadaan tubuh yang pendek dan sangat pendek sehingga melampaui defisit -2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan.
Source: (Manary & Solomons, 2009)
Source: FIMELA Family

Stunting dapat berawal dari kandungan. Kondisi gizi ibu hamil, bahkan sebelum hamil akan menentukan pertumbuhan janin. Ibu hamil yang kekurangan gizi akan berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah, dan ini merupakan penyebab utama stunting. Setelah lahir, bayi yang tidak disusui secara baik akan berisiko menderita berbagai infeksi penyakit karena pola makan yang tidak cukup asupan gizinya dan tidak higienis. Pemberian Makanan Bayi dan Anak sangat menentukan petumbuhan anak. Setelah usia 6 bulan anak perlu mendapat asupan gizi dapat memenuhi kebutuhan asupan gizi mikro, gizi makro serta aman. Kondisi sosial ekonomi, ketahanan pangan, ketersediaan air bersih dan akses terhadap berbagai sarana pelayanan dasar berpengaruh pada tingginya prevalensi stunting.

Stunting pada balita merupakan faktor risiko meningkatnya angka kematian, menurunkan kemampuan kognitif dan perkembangan Motorik rendah serta fungsi-fungsi tubuh yang tidak seimbang.
Source: (Allen and Gillespie, 2001)
Anak-anak yang mengalami stunting lebih awal yaitu sebelum usia enam bulan, akan mengalami stunting lebih berat menjelang usia dua tahun. Stunting yang parah pada anak-anak akan terjadi defisit jangka panjang dalam perkembangan fisik dan mental sehingga tidak mampu untuk belajar secara optimal di sekolah, dibandingkan anak- anak dengan tinggi badan normal.
Source: (Frongillo et al., 1997)

Penelitian Adair and Guilkey (1997) menyatakan bahwa “Stunting pada usia 2 tahun memiliki hubungan yang signifikan dengan rendahnya kecerdasan kognitif”. Penelitian lain menunjukkan stunting pada balita berhubungan dengan keterlambatan perkembangan bahasa dan motorik halus sedangkan stunting yang terjadi pada usia 36 bulan pertama biasanya disertai dengan efek jangka panjang (Branca and Ferrari, 2002).

Salah satu penyebab tingginya risiko terkena penyakit tidak menular (PTM) pada usia dewasa adalah karena kejadian stunting yang dialami pada usia dini. Kecenderungan meningkatnya penyakit karena kejadian stunting. Untuk itu banyak upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran kepada masyarakat akan stunting ini. Dengan cara penyuluhan gizi ibu hamil dan edukasi serta kampanye akan sadarnya status gizi seimbang pada ibu hamil. Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kepada masyarakat dan meningkatkan angka prevalansi stunting.

Selain dampak kognitif yang berkurang,anak stunting juga memiliki risiko tinggi untuk menderita penyakit kronik, seperti obesitas dan mengalami gangguan intolerans glukosa. Sebuah penelitian menunjukkan stunting berhubungan dengan oksidasi lemak dan penyimpanan lemaktubuh. Stunting dapat meningkatkan risiko kejadian hipertensi.
Source: (Branca and Ferrari, 2002).
Source: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Stunting dapat ditanganani dengan memberi ASI ekslusif selama 6 bulan dan pemberian makanan pendamping (MPASI) setelah lebih dari 6 bulan dengan makanan bergizi, baik dan sehat. Kebiasan ibu-ibu sering menggunakan bubur instan selama pemberian makanan pendamping ASI. Ini yang tidak direkomendasikan. Ibu sebaiknya membuat sendiri bubur dengan tambahan sayur dan lauk protein hewani maupun protein nabati. Suatu indikator dapat dikatakan makanan bergizi, baik dan sehat dengan kita mengetahui kandungan dan pengolahan makanan yang akan dikonsumsi.

Dilansir juga turut mendukung, bahwa menurut Guru Besar FKM UI, yaitu Prof, Dr. Endang Laksiminingsih. MPH, Dr.PH, ada keterkaitan mengenai 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan pola asuh terhadap kejadian stunting di Indonesia. Beliau menyatakan bahwa “keterkaitan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) dan pola asuh terhadap stunting memiliki fungsi dan dampaknya dalam jangka panjang. Berawal gangguan gizi pada masa janin dan usia dini ini berakibat anak mengalami stunting yang bersifat permanen.” Ini terjadi karena proses terjadinya Stunting bersamaan dengan proses terjadinya hambatan pertumbuhan dan perkembangan organ tubuh lainnya: otak, jantung, paru-paru, ginjal, dll. Untuk itu sejak hamil usia dini perlu memiliki asupan gizi yang baik sampai 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Source: Dinkes Kab Jombang - Pemkab Jombang

Melalui mahasiswa dan profesi gizi diharapkan masyarakat dapat lebih menyadari peranan ilmu gizi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui mahasiswa juga diharapkan dapat membentuk kesadaran masyarakat akan isu-isu kesehatan seputar gizi dan kesehatan, khususnya masalah stunting. Serta sebagai upaya menjawab tantangan kesehatan Indonesia di masa yang akan datang. Sumber daya manusia yang sehat, cerdas dan produktif merupakan modal dasar bagi terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur.

Kualitas sumberdaya manusia dapat dilihat dari peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang diukur berdasarkan umur harapan hidup, angka melek huruf, tingkat pendidikan, dan kemampuan ekonomi suatu negara. Untuk itu dilakkan pendekatan multisektoral, karena disadari upaya perbaikan gizi tidak dapat hanya dilakukan oleh sector kesehatan. Diperlukan komitmen dan peran lintas sektor melalui intervensi sensitif dalam rangka kapercepatan perbaikan gizi khususnya stunting.

Triwitaan
Triwitaan
Writer, Nutrition Addict, Konference Journalist Addict, F...
Like our facebook page if you like this article!
Category: LIFESTYLE


Related Tags
Curator Introduction
Triwitaan
Triwitaan
Writer, Nutrition Addict, Konference Journalist Addict, Food Fadism, Student, Medical E...

no comments

Follow Moeslema on SNS