2511
  2017-01-14       www.tofugu.com

6 Culture Shock yang Dialami Orang Jepang Selama Tinggal di Jakarta

Menjadi beda bukan berarti tidak bisa beradaptasi. Hanya saja, banyak dari beberapa orang Jepang yang mengaku senang tinggal di Jakarta walaupun sesungguhnya mereka harus menghadapi banyak culture shock yang kadang membuat stres sendiri. Simak yuk apa saja hal-hal yang membuat mereka shock saat tinggal di Jakarta.

Lidya O. 749 views

Culture shock is the feeling of disorientation experienced by someone who is suddenly subjected to an unfamiliar culture, way of life, or set of attitudes.
Source: Google

Anak perusahaan dari Jepang mulai berkembang pesat di ibu kota. Makanya, tidak heran lagi jika kita melihat banyak para ekspat Jepang yang pindah ke Jakarta. Ada yang belajar di universitas, ada yang sekadar travelling, ada juga yang memang datang untuk bekerja di Indonesia. Keberadaan mereka di negara kita menjadi hal yang menarik untuk dibahas kali ini. Apalagi Jepang memiliki kultur dan kebiasaan yang berbeda banget dengan orang Indonesia. Jadi, apa saja sih yang buat mereka shock dan sulit beradaptasi di Jakarta?

1. Cuaca, Kendaraan dan Polusi Udara

Bersih memang identik dengan Jepang. Kalau sudah bersih, pasti jalan-jalan sore pun jadi sangat menyenangkan. Sampah pun nggak berkeliaran ke mana-mana. Kalaupun ada, pasti sedikit. Menurut dari cerita teman-teman Jepang saya, mereka memang sudah terbiasa dengan lingkungan yang bersih sehingga kuman maupun sumber penyakit terbilang jarang.

Walaupun Jepang adalah negara yang teratur, masalah macet terkadang masih terjadi juga di beberapa kota besar seperti Tokyo dan Osaka. Tapi, bedanya mereka tidak serabutan dan menerobos lampu lalu lintas saat sedang macet sekalipun. Rasa kesal pasti ada, tapi mereka tetap disiplin untuk tidak melanggar peraturan di jalan raya. Nah, kalau dibandingkan di Jakarta, bagaimana ya Moeslemates?

Source: www.merdeka.com

Cuaca di Jakarta yang super panas tidak lagi menjadi hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Tapi buat sebagian warga negara asing yang terbiasa hidup di negara 4 musim, seperti Jepang, cuaca panas di Jakarta menjadi salah satu culture shock yang paling banyak dibahas di kalangan mereka. Makanya, nggak heran pakaian yang mereka pakai tipis-tipis dan pendek. Bahkan saking panasnya, kalau sudah ketemu sama ruangan yang ber-AC mereka bakalan seneng banget lho. Dan jangan kaget ya Moeslemates kalau kamu melihat wajah mereka yang tadinya putih jadi kemerahan karena kepanasan.

Selain summer yang terjadi di sepanjang tahun, Jakarta juga memiliki keunikan tersendiri saat para orang Jepang itu mencoba berjalan kaki di persimpangan trotoar. Duh, selain panasnya yang nggak nahan, ditambah pula dengan kemacetan yang luar biasa hebat. Bahkan nggak cuma mobil saja yang markir di jalan, motor pun ikut-ikutan. Antara mobil dan motor pun bisa dibilang jaraknya cukup dekat. Kalau kata orang Jepang, mereka-mereka ini membahayakan banget. Jika dibiarkan begini terus, bisa kecelakaan atau tabrakan lho. Wajar ya mereka takut dan nggak mau bawa kendaraan sendiri. Nyetir di Jakarta perlu keahlian khusus rupanya.

Source: indo.wsj.com

Satu lagi yang nggak kalah bikin shock: polusi udara. Yap, orang Indonesia sendiri pun sepertinya banyak yang pakai masker kalau lagi di jalan. Bukan karena sakit atau nggak enak badan, tapi polusi yang membahayakan banget. Orang Jepang sendiri paling risih sama yang kotor-kotor. Baik itu polusi dari bus kota, angkot, motor, mobil, TransJakarta sekalipun semuanya berkumpul di jalanan.

2. Sampah

Kalau kamu berkesempatan datang ke Jepang, jangan lupa untuk memperhatikan yang satu ini: tempat sampah. Di Jepang, sejak kecil mereka sudah dididik dengan sangat disiplin dan teratur. Khusus urusan sampah, mereka memang agak berlebihan sih menurut saya. Bahkan bos saya yang orang Jepang sendiri pun berkata begitu.

Yap, kalau di Indonesia tidak ada aturan untuk membuang sampah, di Jepang sebaliknya ada yang namanya "Hari Sampah" atau "Gomi no Hi". Antara sampah plastik (pura), aluminium (arumi), steel (suchiiru), pet bottle, kaleng, dan kertas (kami) pun dibedakan semuanya lho. Membuang sampah di Jepang nggak bisa sembarangan. Kalau ada yang melanggar, tukang sampahnya nggak mau ngangkut. Karena sudah terdidik sedemikian rupa, nggak heran lagi begitu ke Jakarta mereka agak sedikit "senang" karena nggak perlu ribet-ribet buang sampah. Toh, tempat sampahnya sama saja biarpun ada tulisan "sampah basah" dan "sampah kering". Tapi biarpun begitu, mereka sempat mengeluh sama kebersihan di jalanan Jakarta lho. Bagi mereka, bersihnya orang Jakarta masih dianggap kotor.

3. Keramahan Orang Indonesia

Satu yang tidak dirasakan orang Jepang saat berada di negaranya sendiri adalah keramahan orang-orangnya. Suka senyum dan membantu adalah ciri-ciri orang Indonesia di mana pun mereka berada. Insting kita sepertinya risih ya kalau ada orang perlu bantuan tapi kita diam saja. Kalau di Jepang, jika mereka tidak kenal maka jangan harap bisa kelihatan akrab di jalan. Selain tipikalnya adalah individualistis, kebanyakan dari mereka juga kurang ramah dan kelihatan sulit bergaul jika dibandingkan dengan orang Indonesia. Rupanya mereka senang banget lho waktu tinggal di Jakarta dan banyak mendapat bantuan dari kita. Kenapa orang Indonesia bisa segitu baik kepada kami, orang asing? Begitu kata mereka.

4. Toilet

Source: www.merdeka.com

Kalau tempat sampahnya saja beda, bagaimana dengan toilet? Pengalaman teman-teman dan bos Jepang yang saya kenal dengan kasus toilet lumayan menjadikannya culture shock. Salah satunya adalah kebersihan, ketersediaan tisu dan tempat sampah untuk membuang tisu toilet.

Source: ayodibaca.com

Toilet di Jepang terbagi menjadi dua, yaitu tradisional dan modern. Kalau yang modern, jelas pasti akan memusingkan karena banyak tombol dan instruksi yang akan membuat bingung orang asing. Kalau yang tradisional bisa dibilang hampir sama dengan toilet di Indonesia namun tetap saja untuk urusan kebersihan dan higienis benar-benar dinomorsatukan.

5. Cara Makan

Makan nasi padang pakai sendok? Nggak mantap! Orang Indonesia akan merasa lebih nikmat jika makan pakai tangan. Tapi buat orang Jepang yang baru pertama kali mengenal luar negeri termasuk Indonesia, pasti akan shock berat begitu melihat cara makan kita.

Source: wisatalova.com

"Hashi" atau chopstick adalah benda yang paling sering kita lihat saat berkunjung makan di restoran Jepang maupun rumah orang Jepang. Karena tekstur nasi mereka sangat pulen, wajar jika mudah makan dengan sumpit. Tapi terkadang, orang Indonesia masih belum terbiasa makan dengan sumpit selain makan mie dan spageti. Betul tidak? Kalaupun makan mie yang berkuah, biasanya pada akhirnya kita akan pakai sendok untuk menyendok kuahnya. Beda dengan orang Jepang yang langsung meneguh kuahnya seperti minum air.

6. Jaringan Internet

Yang terakhir adalah koneksi internet. Yap, di Jepang hampir semuanya sudah memadai fasilitas internet 4G yang super cepat. Baru-baru ini, beberapa provider di Indonesia mulai memboomingkan 4G. Memang begitu dicoba, luar biasa cepat sih. Jadi, nggak heran kalau yang berhubungan dengan internet, Jepang menjadi salah satu yang tercepat. Kalau koneksi sudah lancar, kerjaan pun bisa cepat selesai. Bahkan saya pernah lho mengalami internet down satu hari penuh di kantor. Dan saat itu yang sering mendumel adalah si bos.

Nah, kira-kira seperti itulah culture shock yang saya ketahui dan alami langsung dengan orang-orang Jepang yang tinggal di Jakarta. Tapi biarpun begitu, mereka tetap memilih Indonesia sebagai negara yang "sumiyasui" atau mudah untuk ditinggali. Terutama Jakarta. Mau cari apa saja, ada. Mulai dari yang super murah sampai yang super mahal pun ada. Kalau di Jepang, di mana-mana serba mahal dan peraturannya banyak. Terkadang membuat mereka nggak betah dan ingin bebas sesuka hati. Wah, kalau begitu artinya meskipun Indonesia masih banyak kekurangan, negara kita ini cukup berpotensi untuk berkembang bukan? Lihat saja turis-turis yang berdatangan dan merasa nyaman tinggal di sini. Sekarang saatnya kita mencontoh kebaikan-kebaikan di negara Jepang yang bisa memperbaiki kualitas Indonesia. Betul tidak?

Lidya O.
Lidya O.
Japanese Language Teacher & Interpreter.
Like our facebook page if you like this article!
Category: LIFESTYLE


Curator Introduction
Lidya O.
Lidya O.
Japanese Language Teacher & Interpreter.

no comments

Follow Moeslema on SNS