2008
  2017.01.03       www.google.co.id

Pengalaman Operasi Pemasangan Pen Pada Kasus Patah Tulang (Part 2)

Pengalaman saya selama patah tulang dan penanganannya bagian kedua.

Lidya O. 449 views

Halo Moeslemates! Karena artikel ini merupakan artikel lanjutan, kalau kamu belum baca bagian pertama yuk baca dulu di sini:

Terimakasih sudah membaca. Mari kita lanjutkan ke bagian dua.

Pada hari Rabu (21/12/16), tepatnya pukul 14:30 sore saya melakukan operasi pemasangan pen ke dalam tulang jari kelingking saya. Malam sebelumnya (20/12/16) saya sudah menginap di RS dan melakukan banyak pemeriksaan sebelum itu. Seperti pengambilan darah, rontgen, dan cek kesehatan lainnya. Ternyata, detail sekali lho persiapan sebelum operasi walaupun hanya satu jari kelingking saja yang dioperasi. Pasien harus dalam kondisi bugar, sehat dan tidak terganggu oleh penyakit lainnya. Alhamdulillah, saya berhasil melewati semua proses pemeriksaan kesehatan yang hasilnya adalah saya sehat dan siap untuk melanjutkan ke proses operasi yang sudah terjadwalkan.

S4oypv7u00mtaskivnc6 Source: Photo © Lidya Oktariani

Malam di hari pertama saya menginap di RS, para dokter dan suster sudah banyak memberikan instruksi untuk puasa sebelum operasi, menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan dan tanda tangan surat persetujuan wali pasien untuk melakukan operasi ini. Nah, keesokan harinya saya bangun tepat sebelum Subuh dan para suster sudah mewarning saya untuk puasa mulai pukul 06.00 pagi dan membawa cairan infus serta suntikannya. Saya tidak minum dan makan sama sekali sampai operasi selesai. Karena saya belum bisa BAB, akhirnya suster menyuntikkan saya air yang membuat saya langsung mules. Dua hal penting yang harus disiapkan pasien sebelum operasi adalah harus berpuasa dan BAB.

Rflhwrudndfw0nxbo7ib

Sampailah di pukul 13:00 siang. Saya cukup dibuat ketakutan bukan main menunggu suster menjemput saya ke ruang operasi dengan kursi roda. Akhirnya, mereka datang juga sekitar pukul 13:15. Kemudian, saya diantar ke bilik operasi yang terdiri dari beberapa pintu dan sebelumnya saya diminta untuk mengganti baju dengan baju serba hijau alias baju operasi. Saya baru tahu lho ternyata pasien yang dioperasi itu tidak boleh memakai pakaian sehelai benang pun. Setelah itu saya menunggu kurang lebih 1 jam untuk proses pembiusan. Setelah dokter bius datang, saya dimasukkan ke ruang operasi sungguhan yang persis sekali seperti di drama-drama Korea itu. Beberapa dokter menempelkan saya alat pendeteksi jantung ke beberapa titik di tubuh saya. Kemudian saya disuntik bius dari punggung dan sedikit meneteskan air mata karena saking takutnya.

Para dokter menenangkan saya karena ini adalah pengalaman pertama saya masuk di ruang operasi. Dokter bius pun menyerahkan tugas selanjutnya ke dokter spesialis bedah tulang. Saat itu, saya sangat sadar bahwa para dokter sudah mulai memegang pergelangan kaki saya dan membuka perban secara perlahan. Tapi semakin lama, saya semakin tidak bisa merasakan apa-apa lagi karena obat bius yang mulai bekerja. Bahkan saya sempat menyentuh bagian tubuh saya di bawah sisi perut sudah mengeras dan seperti bantalan besar yang kebal. Walaupun sedikit mengantuk, saya tetap membuka mata dan merasakan jam yang bergulir sangat cepat. Saat dokter bedah sudah mengatakan operasinya selesai, saya bisa jamin, mereka hanya butuh waktu kurang lebih 30 menit untuk mengoperasi saya. Lalu, suster pun menyarankan untuk memasangkan alat bantu kencing mirip sedotan karet yang masuk langsung ke lubang kencing. Lagi-lagi, saya tidak merasakan mereka memasukkan benda apapun ke tubuh saya. Dan kemudian, saya dibawa lagi ke ruang CT scan untuk rontgen kedua dari hasil operasi kali ini.

Dutfjamwkoxzshnqrfrm Source: Photo © Lidya Oktariani

Saya pun dibawa kembali ke ruang rawat inap. Lega rasanya sudah melewati proses operasi yang berjalan sangat cepat dan lancar. Jangan tanya berapa banyak saya harus disuntik. Bahkan, setelah operasi pun saya terus mual dan muntah tidak berhenti karena efek obat bius yang hampir habis. Perlahan-lahan, kebal di bagian tubuh bawah perut saya mulai menghilang dan saya beristirahat sampai keesokan harinya pukul 07:00 pagi. Keadaan saya jauh lebih membaik saat sudah lewat pukul 11:00 siang pada hari Kamis (22/12/16). Suster pun mulai mencabut infus saya dan melepaskan alat bantu kencing secara perlahan. Eits, kata kakak saya, sakitnya bukan main lho saat dimasukkan alat ini. Dan beruntungnya saat dimasukkan alat ini, saya masih dalam keadaan terbius. Begitu dikeluarkan saya kaget bukan main karena sedotannya cukup panjang. Nah, setelah semua proses selesai dilakukan, saya pun mempersiapkan diri untuk pulang. Walaupun sudah tidak menginap di RS, saya tetap diminta untuk kontrol di waktu yang sudah dijadwalkan dokter. Mungkin dari sini akan mulai ditentukan kapan tepatnya pen ini akan diambil lagi. Mudah-mudahan tidak lebih dari 6 bulan ya Moeslemates. Aamiin.

Baiklah segitu dulu cerita saya kali ini. Sampai ketemu di artikel saat saya sudah bisa melakukan operasi kedua yaitu pelepasan pen dan apa saja penanganan dokter dalam masa pemulihan itu. Terus simak ya Moeslemates!

Lidya O. Lidya O.
Time spent with a cat is never wasted. - Colette
Like our facebook page if you like this article!
Category: LIFESTYLE


no comments

Follow Moeslema on SNS