1303
  2016-11-09       npfzhel.ru

Anakku, Belajar Yuk!

Mengenali Kesiapan Anak untuk Belajar

Official Brawijaya Hospital and Clinic 31 views

“Bu, anak saya umur 4 tahun sudah bisa membaca. Itu wajar ngga ya?”
“Bu, anak saya belum genap 7 tahun tapi sudah kepengen masuk SD. Gimana ya?”

Kedua kalimat di atas merupakan pertanyaan-pertanyaan yang sering kita temui sehari-hari. Keduanya, jika kita mau coba telusuri lebih dalam, memiliki ‘makna’ pertanyaan yang sama yaitu: “Apakah anak saya sudah siap untuk belajar?”

Belajar, sebetulnya tidak selalu identik dengan kata ‘sekolah’ dan ‘akademik’. Menurut KBBI, kata ‘belajar’ memiliki arti: berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Artinya, belajar dapat dilakukan dalam konteks apapun. Namun menurut salah satu pakar psikolog pendidikan, Edward Thorndike, terdapat 3 aspek yang harus diperhatikan dalam belajar.

3 Aspek yang Harus Diperhatikan dalam Belajar.

1. Readiness (Kesiapan). Kondisi yang paling baik untuk anak belajar adalah ketika mereka siap; baik secara fisik, mental, dan emosional. Kesiapan fisik dicapai ketika anak mampu memenuhi tuntutan fisik yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar. Begitupun kesiapan mental dan emosional, yang dicapai ketika anak mampu memenuhi tuntutan psikis dalam kegiatan belajar. Misalnya: untuk belajar berjalan, anak harus dipastikan terlebih dahulu secara fisik sudah mampu menjejak secara kokoh. Contoh lainnya adalah: untuk dapat masuk sekolah, anak harus mampu ‘berpisah’ dari figur lekatnya, yaitu ibu.

2. Exercise (Latihan). Tidak dipungkiri, semakin sering kegiatan belajar/berlatih dilakukan, maka akan semakin mudah diingat pula materi yang diajarkan. Namun, belajar tidak hanya mengenal frekuensi, namun juga kualitas kegiatan yang dilakukan. Semakin bermakna kegiatan belajar tersebut, maka akan semakin mudah diingat dan semakin mudah dipelajari.

3. Effect (Efek). Proses belajar akan terasa lebih mudah jika kegiatan belajar yang dilakukan menyenangkan bagi anak. Pengalaman belajar yang menyenangkan akan membuat anak memiliki keinginan untuk kembali belajar. Dalam psikologi, situasi belajar yang menyenangkan & membuat anak semakin ingin belajar disebut sebagai positive reinforcement.


Pada dasarnya, ketiga prinsip ini merupakan syarat utama ketika kita akan belajar bersama anak. Pastikan ketiganya ada dalam proses belajar kita bersama anak, maka kegiatan belajar akan terasa menyenangkan, bagi anak maupun kita sebagai orang tua :)

School Readiness

Source: kidmechanix.com

Kondisi yang paling baik bagi anak untuk belajar adalah ketika ia siap; baik secara fisik, mental maupun emosional. Bagaimana jika konteksnya adalah sekolah? Seperti apakah bentuk kesiapan fisik, psikis, maupun perilaku anak yang akan bersekolah?

Berikut aspek-aspek yang dapat diamati untuk melihat kesiapan anak bersekolah:

1. Motorik Kasar. Salah satu bentuk kematangan motorik kasar pada anak yang siap memasuki sekolah khususnya sekolah dasar, adalah mampu duduk dengan tenang dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu keseimbangan gerakan juga menjadi salah satu aspek yang penting sebagai kemampuan dasar anak untuk belajar.

2. Motorik Halus. Sebagai prasyarat untuk memasuki sekolah dasar, umumnya anak harus memiliki kemampuan motorik halus yang cukup, yang salah satunya ditandai dengan keluwesan dan kestabilan gerakan saat menulis. Pendidikan di sekolah dasar akan cukup menuntut anak untuk banyak menggunakan kemampuan motorik halusnya, terutama dalam menulis.

3. Kognitif. Anak yang siap masuk ke bangku sekolah, secara kognitif biasanya ditandai dengan memiliki kemampuan-kemampuan dasar belajar, diantaranya seperti: mengenal ragam bentuk dan warna, memiliki kemampuan pengamatan yang baik, mampu memfokuskan perhatian serta mengingat instruksi, dan mengetahui konsep bilangan & kategori (banyak, sedikit, kecil, besar, dll).

4. Bahasa. Salah satu ciri anak yang siap memasuki sekolah adalah bahwa ia mampu mengutarakan kebutuhannya melalui ekspresi bahasa verbal.

5. Sosio-emosi. Beberapa tanda bahwa anak sudah siap secara sosio-emosi untuk bersekolah adalah: memiliki ketertarikan untuk belajar/bersekolah/berinteraksi dengan teman seusianya, mampu ‘berpisah’ dengan figur lekatnya yaitu ibu, dan mulai mandiri dalam menyelesaikan permasalahannya sendiri.

Ayah & Bunda: Guru Terbaik bagi Anak

Anak tidak mungkin memiliki kemampuan-kemampuan di atas, tanpa stimulasi. Tidak dipungkiri, keluarga merupakan media belajar pertama anak yang dapat membekalinya beragam kemampuan agar siap belajar. Hal yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah dengan mengenali tugas-tugas belajar dari setiap tahapan usia anak, kemudian stimulasi secara tepat. Pada setiap tahapan usia, anak memiliki tugas belajar yang harus ia capai, baik secara motorik kasar, motorik halus, kognitif, bahasa, kematangan emosi & relasi sosial. Dengan mengetahui standar kemampuan yang seharusnya dicapai oleh anak, orang tua dapat menstimulasi sesuai dengan kebutuhan anak.

Selamat belajar bersama anak, Ayah dan Bunda!

Ditulis Oleh:

Hasya Rahmania Maulani, M.Psi, Psikolog

Sumber Bacaan:

Berk. Laura E. 2006. Child Development, 7th ed. Boston: Pearson Education, Inc.
Santrock, John W. 2011. Child Development, 13th ed. New York: McGraw-Hill

Official Brawijaya Hospital and Clinic
Official Brawijaya Hospital and Clinic
Brawijaya Clinic @Buah Batu – Bandung (BCBB). Klinik kese...
Like our facebook page if you like this article!
Category: LIFESTYLE


Curator Introduction
Official Brawijaya Hospital and Clinic
Official Brawijaya Hospital and Clinic
Brawijaya Clinic @Buah Batu – Bandung (BCBB). Klinik kesehatan wanita yang terpercaya d...

no comments

Follow Moeslema on SNS