1012
  2016-10-10       www.skincare-univ.com

Penyakit Utsubyou di Jepang

Moeslemates pernah mendengar penyakit "utsubyou" yang banyak dialami orang Jepang? Kalau belum, yuk simak penjelasan berikut ini.

Lidya O. 264 views

Kita mungkin sering mendengar masyarakat Jepang yang terkenal dengan kegigihannya dalam bekerja dan ibu rumah tangga yang melakukan semua pekerjaan rumah tanpa adanya pembantu. Ya, semua itu benar. Mereka adalah masyarakat yang individual, berbeda dengan orang Indonesia yang memiliki jiwa saling tolong-menolong. Seperti nenek yang menjaga cucu-cucunya dengan penuh kasih sayang. Di Jepang, kita akan sangat jarang sekali melihat suasana seperti itu.

Namun, tahukah kalian dibalik sifat individualnya orang Jepang, ternyata ini dapat menyebabkan mereka stres atau depresi karena "dipaksakan" untuk bertahan sendiri. Misalnya, jika mereka ada masalah, mereka tidak langsung bisa mengungkapkannya ke orangtua atau teman mereka. Hal ini dapat memicu adanya penyakit yang dikenal sebagai "utsubyou". Untuk lebih mengetahui lebih detil, saya akan menjabarkannya dengan poin-poin di bawah ini.

Pengertian "Utsubyou"

Utsubyou adalah penyakit yang diawali dengan tidak adanya semangat dan keadaan psikologi yang menurun drastis akibat stres atau depresi. Penyakit ini dikategorikan sebagai penyakit jiwa yang akan menyebabkan terganggunya aktivitas-aktivitas sosial di keseharian. "Utsubyou" sendiri memiliki banyak penyebab dan salah satunya adalah karena lingkungan kerja. Tetapi, ada juga beberapa penyebab lainnya seperti hubungan sosial, masalah pribadi, dan keuangan.

Karakteristik "Utsubyou"

Kalau orang Jepang sudah terkena penyakit ini, biasanya mereka akan terus merasa tertekan dan tidak bisa bicara seperti orang pada umumnya. Ciri-ciri "utsubyou" adalah sebagai berikut:

Source: www.utu-net.com

1. Tidak bisa tidur malam tapi terbangun di pagi hari

2. Tidak ada nafsu makan

3. Nonton TV pun tidak menyenangkan

4. Tidak ingin pergi ke kantor

5. Tidak bisa fokus bekerja

6. Tidak mau bertemu dengan teman

7. Di sore hari, keadaan tubuh sedikit membaik

Dari ketujuh ciri-ciri di atas, teman saya sudah mengalaminya dan mengaku terkena "utsubyou" dalam jangka waktu yang cukup lama. Ia pun mengaku tidak ingin pergi bekerja dan hanya akan membuat tubuhnya sakit, capek, dan tidak ada semangat hidup. Awalnya saya hanya mengira ini penyakit biasa yang bisa disembuhkan dengan bantuan dihibur atau yang semacamnya. Tetapi, penyakit ini menjadi berbahaya dan ternyata tidak mempan dengan hanya dihibur atau diberikan semangat saja. Keadaan orang yang terkena penyakit ini seperti tidak ingin pergi ke mana-mana dan tidak ingin mengerjakan apa-apa.

Cara Pencegahan "Utsubyou"

Walaupun saya bukan peneliti kasus "utsubyou" di Jepang, setidaknya, beberapa poin di bawah ini adalah cara pencegahan terbaik berdasarkan pandangan orang Indonesia.

1. Agama

Di Indonesia, agama menjadi suatu hal yang pasti dipertanyakan. Lain halnya dengan di Jepang. Walaupun di sana ada beberapa pemeluk agama, tetapi pada kenyataannya mereka hanya menganggap agama sebagai formalitas saja tanpa harus dijalani dengan sungguh-sungguh dan dijadikan pedoman hidup. Nah, bersyukurnya kita hidup di Indonesia yang memiliki keyakinan hidup lewat agama. Jadi, tentunya kalau kita ada masalah dan stres, kita bisa menenangkan diri dengan melakukan ibadah shalat, membaca Al-Qur'an, sedekah dan berkumpul dengan orang-orang shalih yang dapat memotivasi hidup kita menjadi lebih baik.

Mungkin jika di Jepang juga diterapkan kewajiban beragama dengan sungguh-sungguh, penyakit jenis ini akan berkurang dengan sendirinya. Mengingat bahwa sehebat apa pun manusia pasti akan tetap membutuhkan Tuhan. Dan ini yang dinamakan pentingnya memaknai keberadaan suatu agama.

2. Teman

Ya, teman! Kalau kamu punya teman yang benar-benar bisa dianggap sahabat, keluarga dan bisa membuatmu menjadi orang yang lebih baik lagi, itu sangat bagus untuk kesehatan dan keadaan psikologimu, lho! Nah, masalahnya adalah keadaan orang-orang Jepang saat ini memang sedikit berbeda dengan kita di Indonesia. Walaupun mereka mempunyai teman, tapi apakah mereka mau berbagi cerita dan masalah kepada teman-temannya? Belum tentu. Bahkan mereka lebih senang menutupinya sendiri. Itulah sebabnya penyakit ini sangat memungkinkan terjadi di orang Jepang. Kalau mereka mau merubah pola pikir dengan membuka diri, mungkin penyakit ini akan hilang secara perlahan.

3. Travelling

Apa pun kewarganegaraannya, saya yakin tidak ada yang akan menolak untuk jalan-jalan keliling dunia. Tidak perlu bingung-bingung memilih negara apa, coba saja dulu jelajahi negara sendiri. Di Jepang juga banyak kota wisata dan tempat-tempat menarik yang bisa menjadi venue untuk jalan-jalan. Kalau mereka dapat banyak kesempatan seperti ini, tidak mungkin penyakit "utsubyou" terjangkit ke tubuh dan pikiran mereka. Dengan kita melakukan sesuatu yang menyenangkan, otak dan tubuh kita akan merespon baik untuk menjadikan hormon bahagia itu naik.

4. Keluarga

Lidya O.
Lidya O.
Japanese Language Teacher & Interpreter.
Like our facebook page if you like this article!
Category: LIFESTYLE


Related Tags
Curator Introduction
Lidya O.
Lidya O.
Japanese Language Teacher & Interpreter.

no comments

Follow Moeslema on SNS